Pengajaran Sastra dalam Dilema

Oleh : Arif Kusdarminto, S.Pd.

(Guru SMPN I Karas)

              Membicarakan pengajaran sastra di sekolah seolah-olah bagai mengurai benang kusut yang memang relatif sulit untuk dipecahkan.  Hal ini tidak lepas dari berbagai faktor yang saling berkait. Yang utama tentu saja adalah sifat dari sastra itu sendiri yang memang tergolong sulit dan multiinterpretasi. Berbeda dengan materi kebahasaan yang cenderung mudah dipahami dan sudah ada patokan yang baku. Mengajarkan materi sastra menuntut keahlian lebih dari seorang guru agar tidak salah dalam menangkap dan menafsirkan makna yang terkandung dalam sebuah karya sastra.             Karena sifatnya tersebut, seringkali banyak guru yang tidak menguasai materi sastra dengan baik, hanya mengajar secara tekstual saja tanpa mau berimprovisasi karena takut salah. Hal itu masih lebih baik daripada mengajarkan sastra secara serampangan dan asal-asalan tanpa didasari oleh penguasaan ilmu sastra yang memadahi. Bahkan, tidak jarang materi sastra sengaja ditinggalkan dan tidak dilirik karena guru-guru pengajar merasa tidak memahami dan mengalami kesulitan dalam menangkap maupun mengajarkannya kepada siswa. Apabila hal tersebut berlanjut, tentu saja akan sangat merugikan siswa. Siswa terpaksa hanya menerima sedikit, sesedikit pengetahuan yang dimiliki gurunya. Akhirnya, siswa menjadi subjek yang terjerumuskan karena keterbatasan pengajarnya.             Selain hal tersebut, pengajaran sastra yang diharapkan dapat memperhalus nilai rasa siswa ibarat pepesan kosong. Pengajaran tanpa makna karena tidak bisa menyentuh aspek-aspek estetika dan nilai dalam sebuah karya sastra. Guru sebagai maestro sastra cenderung mengajar  sebatas bentuk fisik sastra, misalnya: unsur instrinsik, unsure ekstrisik sastra, nama pengarang, dan ciri-ciri sastra. Sedangkan aspek yang lebih dalam yang sifatnya agak subjektif cenderung tidak diekploitasi dengan baik. Padahal di dalam sebuah karya sastra akan banyak ditemui nilai-nilai kehidupan yang dapat mengasah pola pikir siswa, melatih kepekaan sosial, meningkatkan religiusitas, dan lain-lain. Jadi, dapat dikatakan bahwa pengajaran sastra lebih mementingkan aspek kognitif daripada aspek afektif yang sebenarnya sangat diharapkan dalam mengajarkan sastra.             Kenyataan ini diperparah dengan bergesernya perspektif pengajaran sastra yang hanya berpusat pada penyelesaian soal-soal ulangan, baik ulangan sekolah maupun ujian nasional. Guru dan siswa menggeluti sastra bukan untuk menemukan kesenangan dan hiburan, tetapi sekedar bisa menjawab soal-soal. Oleh karena itu, pengajarannya juga diarahkan pada materi-materi yang terdapat dalam kisis-kisi Ujian Nasional. Guru dan siswa tidak mau berimprovisasi agar pembelajaran sastra menjadi menarik dan menghibur. Oleh karena itu, tidak salah apabila ada yang mengatakan bahwa pengajaran sastra adalah pengajaran yang sia-sia dan membosankan.             Memang tidak mudah mengajarkan sastra. Selain sifatnya yang multiinterpretasi, juga karena cakupannya yang luas. Seorang guru yang mengajarkan sastra harus menguasai betul teori sastra, sejarah sastra, kritik sastra, genre sastra (puisi, prosa, dan drama), dan lain-lain. Seorang  guru juga “dituntut” menjadi seorang sastrawan yang ahli membuat karya sastra (mis:puisi, cerpen, drama, pantun, syair, dll). Bahkan, seorang guru juga “dituntut” untuk dapat mengekspresikan dengan baik karya satra yang diajarkan. Oleh karena itu, bagi sebagian guru, pengajaran dianggap sebagai sebuah beban ketimbang sebagai sebuah pengajaran yang menarik, menantang, dan sekaligus penghibur diri.             Menanggapi hal –hal tersebut kiranya seorang guru perlu berusaha lebih keras untuk menyampaikan materi sastra kepada siswa-siswanya. Sebenarnya ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh Bapak/Ibi guru untuk menjembatani hal tersebut, antara lain:
  1. Belajar terus menerus
            Belajar adalah kata yang tepat untuk menguasai sastra dan mengajarkannya. Belajar dapat dilakukan secara formal melalui jalur pendidikan yang sesuai dengan  bidang yang diajarkannya. Guru-guru juga tidak enggan atau giat mengikuti workshop, seminar, atau diklat yang berhubungan dengan kesastraan. Melalui kegiatan tersebut keilmuan dan keahlian guru akan terasah sekaligus mendapatkan pengetahuan baru yang mungkin selama ini belum pernah didapatkan. Belajar dalam arti luas, guru juga dapat membaca buku-buku yang berhubungan dengan sastra. Jangan sampai terjadi sebuah ironi ketika guru belum pernah membaca buku wajib sastra sedangkan siswanya sudah  terlebih dahulu membacanya. Sebagai “sumber ilmu”, guru merupakan wadah yang harus berisi air agar siswa yang menimba mendapatkan apa yang diinginkannya. Bukan menimba sumur yang  kering dan hampa.
  1. Mencoba berekspresi
            “Ketakutan” guru mengajarkan sastra kadang-kadang disebabkan oleh ketidakmampuannya dalam memberikan contoh kepada siswa-siswanya. Contohnya, ketika seorang guru mengajarkan drama, paling tidak seorang guru harus dapat memberikan contoh dialog drama dengan baik, bukan hanya sekedar memberikan teori saja. Akan menjadi hal yang sangat “menakutkan” apabila siswa menuntut gurunya untuk memamerkan keahliannya bermain drama. Apakah permintaan siswa tersebut akan kita tolak dengan alasan yang dibuat-buat sekedar untuk menutupi kekurangannya? Demikian juga ketika harus mengajarkan puisi, cerpen, novel, dan lain-lain. Oleh karena itu, tidak ada salahnya apabila guru berlatih membuat dan mengekspresikannya dalam bentuk pembuatan puisi, pembuatan cerpen, pembuatan naskah drama, pembacaan puisi, pembacaan cerpen, mendongeng, dan lain-lain. Hasil ekspresi guru-guru dapat dipublikasikan melalui majalah dinding, majalah sekolah, atau media massa yang lainnya. Dengan demikian, guru yang dianggap sebagai gudang ilmu dan serba tahu, akan mengajar dengan percaya diri dan penuh wibawa.
  1. Pemanfaatan Teknologi Informatika
            Bukan jamannya lagi sekarang ini, seorang guru tidak menguasai teknologi (gaptek). Melalui kemajuan teknologi ini sebenarnya guru diberi kemudahan untuk mendapatkan materi-materi yang diperlukan dalam mengajarkan sastra. Kita dapat mengakses segala sesuatu yang berhubungan dengan sastra hampir “tanpa batas”.  Kemajuan teknologi, terutama internet, menjadi solusi alternatif yang dapat menutup kekurangan-kekurangan seorang guru. Misalnya, ketika seorang guru tidak dapat memberikan contoh yang baik suatu KD, guru dapat memutarkan kaset atau menyampaikan “unduhan materi” dari internet kepada siswanya. Selain menarik, inovatif, dan tidak membosankan, guru juga dianggap siswanya mampu dan tidak gaptek.             Akan tetapi, jangan sampai seorang guru terlalu tergantung kepada teknologi informatika. Ketergantungan ini akan membuat guru manjadi malas untuk mempelajari materi sastra. Apabila hal ini terjadi, guru akan semakin tenggelam dalam ketidakmampuannya menguasai sastra dan mengajarkannya. Selain itu, ketika suatu saat ada gangguan pada media yang dimilikinya, guru akan mengalami kesulitan atau tidak percaya diri mengajarkan sastra. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi informatika harus diletakkan pada perspektif sebagai pelengkap, bukan sebagai suatu hal yang wajib dan utama. Bagaimana pun juga, siswa masih memandang guru sebagai “gudang ilmu” bukan komputer atau laptop.
  1. Memaksimalkan Sumber Belajar
            Harus dipahami bahwa sumber belajar, dalam hal ini sastra, bukan guru semata. Guru dan siswa dapat memanfaatkan sumber belajar di sekitar agar pembelajaran lebih efektif, kreatif, dan menarik. Selama ini, munkin masih banyak yang selalu menyandarkan diri pada buku-buku dalam mengajarkan sastra. Padahal, sumber belajar dapat diperoleh di lingkungan sekitar sekolah atau di mana saja. Misalnya, suatu ketika kita perlu mengajak siswa-siswa ke pementasan teater, pembacaan puisi, atau diskusi ilmiah yang membahas sastra. Terutama di kota-kota besar kegiatan-kegiatan seperti itu banyak sekali dijumpai. Memang agak menyita waktu, tenaga, dan biaya, tetapi tidak ada salahnya apabila hal tersebut dicoba. Apabila hal tersebut dirasa berat, kita bisa juga mengajak siswa keluar kelas untuk mengamati sawah di sekitar sekolah, gunung yang menjulang jauh nun di sana, dan  mengamati pejual makanan (asongan) di depan sekolah ketika mengajarkan cerpen atau puisi.             Memang tidak mudah mengajarkan sastra, tetapi juga bukan sesuatu yang tidak bisa dipelajari dan dipraktikkan. Semua berpulang kepada keinginan seorang guru sebagai “jembatan ilmu” untuk anak didiknya. Apakah kita akan selalu terjebak pada permasalahan yang sama tanpa ada sedikit usaha untuk melakukan perubahan?
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *