Menjadi Guru Berkarakter

WhatsApp Image 2019-07-30 at 12.29.43

Arif Kusdarminto,S.Pd.

(SMPN 1 Karas)

 
  1. Guru dan permasalahannya
            Akhir-akhir ini dunia pendidikan mendapat sorotan yang tajam dari berbagai kalangan. Bukan hanya masalah perbaikan nasib guru melalui program sertifiksi guru saja tetapi juga masalah lemahnya kualitas guru, terpuruknya kewibawaan guru, menurunnya moralitas guru, rendahnya mutu lulusan, dan lain sebagainya. Hal tersebut sebenarnya sangat ironis. Betapa tidak? Di saat kesejahteraan guru ditingkatkan oleh pemerintah di saat yang sama dihadapkan berbagai permasalahan tersebut di atas. Padahal, seorang guru yang dianggap sebagai insan  mumpuni dituntut untuk mumpuni dalam segala bidang yang pada akhirnya dapat membawa perubahan yang besar, terutama kepada anak didiknya.             Disadari atau tidak sebenarnya tugas guru sangat mulia. Dengan menjadi guru segala hal yang terjadi di dunia ini adalah berkat tangan-tangan yang penuh kesungguhan dalam mengarahkan orang yang dididiknya. Tidak ada perubahan menuju yang lebih baik dalam setiap kejadian perjalanan kehidupan manusia baik yang kecil ataupun yang besar tanpa peran seorang guru. Hal itu sejalan dengan roh yang terdapat dalam UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang menyebutkan bahwa guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Mencermati UU tersebut seorang guru harus memiliki kemampuan-kemampuan khusus yang tidak dimiliki oleh profesi lain agar benar-benar menjadi seorang guru yang professional. Menurut Sumiati dan Asra (2007;243) agar menjadi guru yang professional guru harus memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi professional, dan kompetensi sosial. Oleh karena itu, tidak salah apabila ada pepatah yang mengatakan bahwa guru itu harus “digugu dan ditiru”. Karena memang guru merupakan insan yang seharusnya mumpuni dalam segala hal. Apabila hal tersebut dapat benar-benar dihayati, seorang guru pasti akan menjadi pribadi yang pintar, berkepribadian baik, mampu membimbing siswa untuk meraih cita-cita, dan dapat berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat.             Lalu apa yang salah kalau akhir-akhir ini guru selalu dituduh sebagai “yang paling bertanggung jawab” terhadap rendahnya mutu guru, rendahnya mutu lulusan, dan merosotnya nilai moral siswa di sekolah. Terlepas dari banyaknya sebab yang saling berkait,  tuduhan-tuduhan tersebut sebenarnya bisa dijadikan sebagai introspeksi sekaligus sebagai cambuk agar seorang guru lebih termotivasi, khususnya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Oleh karena itu, seorang guru perlu menorehkan pengalaman terbaik dalam proses pembelajaran agar dalam setiap kesempatan dapat “mentransfer ilmu” dan “membimbing siswa” dengan hasil yang maksimal.
  1. Berbagai Pilihan
   Ketika seorang sudah memilih profesi sebagai seorang guru, maka di dalam hati harus sudah terpatri jiwa seorang guru. Tentu kita masih sangat ingat semboyan Ki Hajar Dewantara bahwa jiwa guru harus “ing ngarso sung tuladha, ing madya bangun karsa, tut wuri handayani” yang sampai sekarang dipakai PGRI sebagai semboyannya. Oleh karena itu, untuk memotivasi kita sebagai seorang guru ada beberapa hal yang bisa dijadikan cermin/evaluasi diri.
  1. Jadilah yang “dinanti” bukan yang “dihindari”
               Ada banyak pertanyaan atau pernyataan anak didik yang menggelitik yang sebenarnya dapat dijadikan sebagai cermin diri kita, misalnya: Pak, kok nggak pernah kosong to?, Pak, nanti Bapak rapat dinas kan?, Bu, kok sudah sembuh?, Asyiiik, Pak Anu besok ikut study tour. Jadi kosong deh, dst.      Pertanyaan-pertanyaan sepele tersebut sangat bermakna apabila dirasakan. Secara tersirat anak-anak lebih suka kalau kita tidak hadir di sisi mereka. Kehadiran kita di tengah-tengah mereka tidak diharapkan karena beberapa faktor.     Kehadiran kita “tidak dinanti” oleh anak-anak. Bahkan, oleh bebarapa anak mungkin kehadiran kita ibarat “neraka”. Sungguh sebuah “tonjokan yang tajam” kepada kita. Serta merta kita akan berfikir, betapa kurang ajarnya mereka. Serta merta emosi kita memuncak dan menghujani anak-anak dengan “kata-kata yang pedas” atau bahkan langsung memberi sanksi. Lalu apa yang akan terjadi apabila kita sebagai sumber ilmu bagi anak-anak, dalam  kondisinya seperti itu? Kalaupun anak didik menerima pelajaran, menerima dengan penuh keterpaksaan, dongkol, dan kebencian.    Akan sangat indah apabila kehadiran kita adalah kehadiran “yang dinanti” dengan antusias dan rasa cinta anak kepada gurunya. Hal tersebut tentu akan memudahkan kita untuk mengajar yang pada akhirnya tujuan yang telah kita rancang dapat tercapai. Untuk menjadi “yang dinanti” memang bukan hal yang mudah, tetapi tetap bisa diikhtiarkan dengan niat yang kuat dan sungguh-sungguh.
  1. Jadilah “yang terbaik”
       Guru “yang terbaik” adalah guru yang mampu tampil dengan kompetensi lengkap. Seorang guru yang ingin menjadi yang terbaik tentu akan berusaha keras untuk mencapainya,: misalnya terus meningkatkan keilmuannya, aktif dalam kegiatan-kegiatan sekolah, aktif dalam mengembangkan dirinya. Dalam konteks pembelajaran di kelas, guru bisa memberi layanan yang maksimal kepada peserta didik. Apalagi sekarang, dengan kemajuan teknologi yang luar biasa, guru bukanlah satu-satunya sumber belajar bagi siswa. Siswa bisa sangat mudah mendapatkan informasi dan bahan-bahan pelajaran dari internet. Akan menjadi sebuah ironi apabila seorang guru tidak berusaha mengembangkan dirinya. Bukan berarti guru harus punya prinsip tidak mau kalah dengan anak-anak karena memang kita mempunyai keterbatasan untuk hal-hal tertentu. Tetapi penguasaan materi pelajaran adalah mutlak agar guru dapat menularkan ilmunya dan berwibawa di depan siswa-siswinya. Jangan sampai terjadi guru jatuh wibawa gara-gara tidak dapat menguasai materi pelajaran dengan baik.
  1. Jadilah “yang disegani” bukan “yang ditakuti”
   Mencermati perkembangan guru dari waktu ke waktu memang penuh dengan dinamika. Hal tersebut tidak lepas dari perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Perubahan dalam masyarakat lambat laun menggeser hegemoni guru dalam perannya. Tentu kita masih ingat betapa dihormatinya guru waktu itu meskipun kadang-kadang penghormatan semu karena ketakutan. Suasana belajar yang tegang dan kaku sengaja diciptakan dengan harapan anak didik memperhatikan ceramah guru dengan sungguh-sungguh. Tidak jarang siswa menjadi objek penderita, apabila tidak mengerjakan tugas, tidak memperhatikan guru, tidak bisa menjawab soal, dan lain-lain. Karena ketakutan itulah banyak siswa yang tidak berani mengekspresikan kemampuan yang dimiliki meskipun sebenarnya bisa. Akhirnya para siswa lebih memilih diam ketimbang harus menanggung resiko dimarahi, dipukul penggaris, “dijewer”, dan lain-lain.    Tentu hal ini berbeda dengan guru yang disegani. Guru yang disegani bukan karena siswa takut, tetapi karena kelebihan yang dimiliki oleh seorang guru. Kelebihan seorang guru bisa dilihat dari penguasaan materi, kedisiplinan, ketegasan, kesopanannya, dan lain-lain. Guru yang disegani siswa kebanyakan adalah guru yang mempunyai rasa sayang dan empati kepada para siswanya. Oleh karena itu, siswa akan merasa rugi apabila tidak bisa dekat dengan guru tersebut.
  1. Jadi “kawan” atau “lawan”
       Dalam keseharian di sekolah seorang guru akan berhadapan dengan aneka warna karakter anak didik. Kalau boleh memilih tentu saja guru akan memilih siswa-siswa yang pandai, disiplin, taat, agamis, sopan, dan yang baik-baik saja. Pada kenyataannya hal itu sangat mustahil terjadi. Bahkan saat ini seiring dengan kemajuan jaman, harapan itu berbanding terbalik dengan realitasnya. Siswa sekarang cenderung berani, kurang sopan, kurang disiplin, kurang taat, dan kurang menghargai guru. Tidak jarang seorang guru harus berurusan dengan polisi dan pengadilan gara-gara menghukum anak hanya karena masalah sepele saja. Bahkan untuk menegakkan disiplin di sekolah pun, oleh sebagian anak, guru dianggap musuh. Kenyataan ini akan lebih parah apabila guru menarik garis permusuhan dengan siswa. Kalau seorang guru dengan siswa sudah saling “bermusuhan” dan saling membenci dapat dipastikan proses belajar mengajar di kelas akan terganggu.        Sikap guru dan siswa yang demikian tentu sangat tidak menguntungkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Padahal untuk mencapai sebuah tujuan perlu dijalin komunikasi yang baik antara siswa dan guru. Bagaimana seorang siswa akan dapat menerima pelajaran dengan baik, kalau mendengarkan gurunya saja tidak mau. Sebaliknya, bagaimana seorang guru mampu mengajar dan membimbing dengan baik kalau mengajar dengan asal-asalan dan tidak dengan kesungguhan hati. Dalam beberapa kasus, guru mengeluarkan anak yang bandel di kelas atau bahkan gurunya dengan sengaja meninggalkan kelas karena tidak tahan dengan kondisi kelas yang tidak bisa dikendalikan. Tentu saja hal itu sangat merugikan siswa-siswa yang memang dengan sungguh-sungguh ingin belajar.        Yang paling ideal tentu saja adalah terjalinnya hubungan yang akrab antara siswa dan guru. Guru menganggap siswa sebagai kawan atau bahkan menganggap siswanya sebagai anak dengan penuh rasa sayang. Sedangkan siswa, akan menganggap guru sebagai tempat bertanya, tempat mengadu, tempat menggali ilmu, tempat memecahkan masalah, bahkan tempat untuk mendapatkan kasih sayang apabila memang di rumah kurang kasih sayang. Dengan demikian akan tercipta sebuah situasi yang kondusif, terutama untuk kepentingan proses belajar mengajar.        Tentunya masih banyak pilihan yang bisa dipilih oleh guru. Tapi pada dasarnya seorang guru akan merasa senang dan termotivasi dalam mengajar apabila kehadirannya selalu dinanti oleh anak-anak, merasa ilmunya sangat dibutuhkan, merasa disegani, dan dekat dengan siswa-siswanya. Tidak jarang kita melihat seorang guru menangis haru karena seluruh kelas yang diajarnya merayakan ulang tahun guru yang dicintainya. Atau siswa-siswinya menjenguk guru yang disayanginya ketika sedang terbaring sakit di rumah sakit. Atau meneteskan air mata haru bersama-sama muridnya ketika di acara pelepasan kelas IX dikumandangkan lagu /Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru/Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku/Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku/Sbagai prasasti terima kasihku tuk pengabdianmu/.
  1. Apa yang harus dilakukan?
   Setiap manusia umumnya mengharapkan yang terbaik dalam hidupnya. Demikian juga dengan guru, pasti mendambakan pengalaman yang terbaik di dalam bergulat dengan anak didik, teman sejawat, dan staf pendukung di sekolah. Misalnya; seorang guru akan merasa sangat senang dan bangga saat pengumuman kelulusan siswa-siswinya lulus 100% dengan nilai yang memuaskan. Hal itu berarti jerih payahnya selama mengajar terbayar sudah. Atau seorang guru akan merasa bangga luar biasa saat siswa binaannya memperoleh juara 1 Olimpiade sains. Hal itu tentu akan menambah motivasi kepada seorang guru untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran.               Akan tetapi, pengalaman terbaik tidak harus selalu berisi pengalaman yang baik-baik saja. Seringkali pengalaman terbaik akan diperoleh ketika guru pernah mengalami pengalaman terburuk di sekolah. Pengalaman buruk yang tidak akan pernah dilupakan karena begitu membekas di hati. Tentu saja apabila dapat mengambil hikmah dari pengalaman terburuk dalam mengajar untuk berubah menjadi lebih baik.        Oleh karena itu, ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh seorang guru untuk menorehkan pengalaman terbaik dalam mengajar, misalnya:
  1. Persiapan Mengajar
   Persiapan mengajar merupakan kunci dari keberhasilan seorang guru. Tanpa persiapan yang baik tujuan yang akan dicapai kemungkinan besar tidak akan terwujud. Secara umum persiapan mengajar dibagi menjadi 2 yaitu persiapan Rencana Pembelajaran dan persiapan diri.    Rencana Pembelajaran merupakan hal wajib yang harus ditata dengan apik oleh guru. Melalui Rencana Pembelajaran yang baik, tujuan dan target-target  akan lebih mudah dicapai. Melalui Rencana Pembelajaran seorang guru akan mempersiapkan materi, mempersiapkan proses pembelajaran yang efektif, dan menciptakan (menggunakan) alat evaluasi  yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Selain hal di atas, juga yang penting direncanakan adalah adalah menyiapkan administrasi siswa dan media pembelajaran/alat peraga yang akan dipakai dalam pembelajaran.             Persiapan Diri juga sangat menentukan keberhasilan seorang guru dalam proses pembelajaran. Persiapan diri ini meliputi persiapan fisik, persiapan mental, dan persiapan penampilan. Tentu seorang guru akan tidak nyaman ketika mengajar dalam kondisi yang sakit atau sedang mengalami permasalahan yang berat dalam hidupnya. Seorang guru tentu juga akan sangat terganggu apabila siswanya mengomentari penampilannya, misalnya: baju yang kedodoran, rambut dan kumis yang awut-awutan, aksesoris yang berlebihan, dan lain-lain.
  1. Pelaksanaan Pembelajaran
  2. Siswa adalah lumbung pahala
              Ketika pertama kali melangkah menuju ruang kelas seyogjanya seorang guru membulatkan niat bahwa aktivitas hari itu tidak akan berakhir sia-sia. Mungkin yang harus ditanamkan dalam diri seorang guru adalah semboyan “pekerjaanku adalah ibadahku”. Kalau seorang guru menganggap bahwa mengajar adalah sebuah ibadah maka secara otomatis akan muncul keikhlasan dalam mengamalkan ilmunya. Tidak akan berat melangkahkan kakinya ke kelas meski mempunyai beban hidup yang berat. Bagi yang beragama Islam tentu sangat faham bahwa amal seorang akan putus ketika ajal menjemput, kecuali 3 perkara, yaitu: amal jariyah, doa anak yang shaleh, dan ilmu yang bermanfaat.        Guru mempunyai peran yang besar dalam proses kehidupan siswa. Selain mengajarkan ilmu yang dimilikinya, seorang guru juga dituntuk untuk dapat membimbing dan mengarahkan siswanya. Oleh karena itu, saat pembelajaran berlangsung guru dapat menitipkan pesan-pesan moral/agama agar selain pintar ilmu-ilmu keduniaan, siswa juga mendapat suntikan rohani dari guru. Tidak salah rasanya pemerintah memberi ruang pendidikan karakter agar dimunculkan dalam proses pembelajaran. Dalam Kurikulum 2013 hal itu sangat eksplisit dituliskan dalam Kompetensi Inti.
  1. Tersenyumlah selagi senyum belum dilarang
            Tentu kita ingat benar ketika masih sekolah betapa tidak nyamannya atau betapa tegangnya kelas ketika melihat menatap wajah guru yang masam dan kaku memasuki kelas. Sebagian siswa bahkan sangat ketakutan, terutama siswa yang tidak pernah mampu menguasai materi pelajaran. Bahkan, sebagian lagi memilih pura-pura sakit dan tidak mengikuti pelajaran untuk tidur di UKS meski baunya tidak sedap. Hal demikian tentu menciptakan benteng pembatas antara guru dan siswa. Mahalnya senyum guru juga bisa mematikan kreatifitas siswa. Siswa yang pintar pun terkadang enggan untuk unjuk gigi karena takut disalahkan. Sedangkan siswa yang tidak mampu menyerap pelajaran lebih suka diam daripada harus bertanya tentang materi yang belum dikuasai.             Oleh karena itu, ketika memasuki kelas jangan mahal tersenyum meskipun ada beban berat menghimpit dari rumah. Seorang guru memang terkadang harus bermain watak di depan siswa-siswinya. Dengan tersenyum akan membuka kesempatan bagi guru dan siswa untuk saling bertukar pikiran mengenai banyak hal, terutama materi pelajaran hari itu. Senyum juga akan melahirkan keterbukaan di antara kedua belah fihak.  Bukankah senyum merupakan ibadah?
  1. Kenali Siswa
              Dalam keseharian di sekolah sering kita jumpai guru yang tidak mengenali dengan baik siswanya, baik nama, wajah, kelebihan, kekurangan,dsb. Tentu hal tersebut akan berpengaruh dalam proses pembelajaran di kelas dan hubungan sosial di sekolah, terutama guru-guru yang jam tatap mukanya sedikit. Banyak hal bisa terjadi yang diakibatkan oleh hal tersebut, misalnya: salah memanggil, salah memberi nilai, salah menerapkan strategi pembelajaran, kurang akrab dengan siswa, dan lain-lain.        Idealnya guru berusaha mengenali karakteristik siswa dengan menggali informasi sebanyak-banyaknya. Dengan mengenali siswa guru dapat menentukan dengan tepat:  materi pelajaran,  langkah-langkah pembelajaran,  metode pembelajaran, media pembelajaran, evaluasi, dan lain-lain. Keberhasilan guru mengenali siswa juga akan berdampak pada terciptanya situasi yang akrab dan penuh kasih sayang sehingga tujuan pembelajaran akan mudah tercapai. Siswa juga akan merasa senang dan merasa dihargai apabila gurunya mengenali dengan baik dirinya.              
  1. Ingat Benang Merah
       Benang merah dalam proses pembelajaran tertuang dalam langkah-langkah pembelajaran. Guru dalam mengajar seharusnya mengikuti benang merah yang telah dirumuskan agar tujuan yang hendak dicapai dapat berjalan dengan baik. Tentu saja langkah pembelajaran harus disusun dengan mempertimbangkan tujuan pembelajaran, kemampuan guru, kondisi siswa, waktu yang tersedia, dan sarana yang tersedia/disiapkan.        Seringkali guru melupakan langkah-langkah pembelajaran sehingga menyebabkan tujuan terlepas, misalnya; tidak tercapainya indikator karena terlalu banyak humor, tidak sempat melakukan evaluasi karena kehabisan waktu, tidak menyiapkan media pembelajaran padahal ditulis di rencana pembelajaran, dan lain-lain. Oleh karena itu, “ketaatan” guru pada langkah-langkah pembelajaran yang telah disusun sangat penting meskipun bisa saja guru sedikit agak menyimpang sebagai intermezo.            
  1. Kaitkan dengan dunia nyata
       Salah satu azas yang penting dalam mengajar adalah mengaitkan materi pelajaran dengan dunia nyata. Siswa akan lebih mudah memahami materi apabila ada contoh-contoh konkret yang pernah dilihat dan dialami siswa dibandingkan dengan teori-teori yang bersifat abstrak. Seseorang akan memperoleh suatu pengalaman secara lebih mudah dan lebih baik jika pengalaman yang dicapai sebelumnya mempunyai kaitan dengan pengalaman yang baru. Kegiatan ini dapat dilakukan oleh guru di awal pembelajaran yang biasa dikenal dengan istilah apersepsi, eksplorasi, atau menanya dalah Kurikulum 2013.        Dalam proses ini alangkah lebih baik juga disisipkan pengalaman belajar yang berkaitan dengan pendidikan kecakapan hidup (life skill) agar siswa lebih fokus dalam pelajaran dan memandang bahwa materi yang disampaikan guru pasti akan bermanfaat dalam kehidupan nyata. Siswa diperkenalkan dengan berbagai fenomena kehidupan termasuk dengan pekerjaan yang mungkin bisa dicapai oleh siswa ketika kelak sudah waktunya mencari pekerjaan. Bagaimana pun juga, ilmu terkadang dianggap tidak bermakna manakala seorang siswa gagal mendapatkan pekerjaan dengan ilmu yang dimiliki.  
  1. Pilihlah strategi, metode, pendekatan, dan teknik yang tepat
       Muara dari sebuah proses pembelajaran adalah hasil yang dicapai oleh siswa dalam belajar. Dengan kata lain bahwa strategi, metode, pendekatan, dan teknik pembelajaran bertujuan agar pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan hasil belajar dapat dicapai atau ditingkatkan. Diperlukan pemahaman yang mendalam tentang karakteristik siswa agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik karena orientasi yang utama adalah siswa. Dengan memahami karakteristik siswa seorang bisa menentukan strategi, metode, pendekatan, dan teknik yang tepat sesuai dengan tujuan pembelajaran dan materi pembelajaran.  
  1. Sumber belajar dan  media pembelajaran
        Sumber belajar       Seorang guru yang kreatif pasti akan memanfaatkan segala sumber belajar yang tersedia di sekolah. Guru tidak akan membiarkan sumber-sumber belajar di sekolah tanpa mempunyai makna sehingga pembelajaran lebih bervariasi. Dengan bervariasinya sumber belajar diharapkan akan meningkatkan kadar keaktifan dalam proses belajar mengajar.  Guru bisa memanfaatkan sumber belajar selain buku teks, misalnya: majalah, koran, media elektronik, narasumber, dan lingkungan yang ada di sekolah. Sekali waktu ajaklah siswa meninggalkan kelas untuk mengunjungi perpustakaan, observasi lingkungan , atau wawancara dengan narasumber agar siswa tidak bosan dan mendapatkan pengalaman nyata.      Bagi guru sumber belajar juga sangat penting terutama dalam penguasaan materi dan penyusunan perangkat pembelajaran. Akan sangat memprihatinkan apabila seorang guru sangat “setia” dengan buku teks, sedangkan masih banyak sumber belajar lain yang lebih menarik. Semakin banyak guru memanfaatkan sumber belajar, guru akan semakin ahli dan percaya diri berhadapan dengan siswa-siswinya.          Media Pembelajaran      Sekarang ini bukan zamannya lagi seorang guru hanya mengandalkan ceramah dalam proses pembelajaran. Selain monoton, tidak menarik, dan membosankan ceramah hanya memberi gambaran-gambaran abstrak kepada siswa. Padahal dengan menggunakan media pembelajaran siswa akan mendapatkan pengalaman konkret dan memudahkan menerima pesan. Untuk membuat dan mendapatkan media pembelajaran sekarang bukanlah hal yang sulit karena bahan bertebaran di sekitar kita. Kemajuan teknologi informatika bisa menjadi andalan untuk mendapatkan media pembelajaran.  
  1. Hargai setiap jerih payah siswa
     Ketika seorang siswa dapat menyelesaikan tugas paling awal kemudian namanya dicatat dalam buku bimbingan siswa, ada perasaan bangga pada diri siswa. Atau ketika seorang siswa yang terkenal bandel di kelas diberi nilai paling tinggi untuk KD tertentu karena memang dia yang paling baik ternyata memberi pengaruh yang cukup signifikan. Siswa menjadi lebih aktif, menjadi lebih percaya diri, dan menjadi lebih mudah dikendalikan. Hal ini menunjukkan bahwa penghargaan seorang guru sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Oleh karena itu, janganlah pelit memberi penghargaan. Penghargaan bisa berupa senyuman, berjabat tangan, memberi acungan jempol, memberi nilai yang layak, memajang karya siswa di mading atau majalah sekolah, memberi hadiah, dll.  
  1. Semua berawal dari kata-kata
     Komunikasi memegang peranan yang penting dalam proses pembelajaran karena setiap materi pelajaran akan terserap dengan baik apabila disampaikan dengan bahasa yang jelas, mudah difahami, tidak monoton, dan memotivasi siswa. Sebaliknya, seorang guru akan mendapat banyak umpan balik dari bahasa yang digunakan oleh siswa.      Dalam konteks lain, bahasa juga sangat berpengaruh terhadap hubungan antara siswa dan guru. Dalam banyak kasus seorang guru bisa sangat dibenci oleh siswa gara-gara kata-katanya yang menyakitkan, melecehkan, kasar, dan tidak menghargai siswa. Demikian juga, banyak siswa yang tidak disukai guru karena kata-katanya yang tidak menghargai, kurang sopan, dan merendahkan martabat guru. Oleh Karena itu, sikap saling menghargai lewat komunikasi perlu ditumbuhkembangkan agar terjalin hubungan yang akrab antara guru dan siswa, terutama di lingkungan akademik.               Demikianlah beberapa hal yang dapat dijadikan motivasi untuk menorehkan pengalaman terbaik dalam mengajar. Semua berpulang kepada guru, mau menjadi guru yang benar-benar guru atau menjadi guru yang asal-asalan saja. Memang bukan hal yang mudah, tapi tidak mustahil untuk dilakukan. Siswa adalah anak kita, anak kita adalah siswa. Bukankah kita juga  akan mencarikan guru terbaik  bagi anak-anak kita?   Pengalaman Terbaik menjadi guru dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *